Sunday, March 13, 2011

Episode 1 - His Name Is Mad Clown


            Malam Oktober yang dingin. Sebentar lagi tepat tengah malam. Ruangan yang kutempati rasanya makin mengkerut saja, kamar sempit berjendela tunggal dengan teralis yang tebal. Semenjak orang tuaku meninggal, aku tinggal sendirian dalam kelamnya dunia. Melihat berbagai kejahatan, serta merasakannya. Aku masih terjaga, menatap bulan purnama malam ini. Desiran angin yang masuk melalui jendela kamarku tidak bisa membuatku tertidur.

            Teringatlah aku akan kata-kata paman tua yang aku tolong tadi pagi, bahwa sesungguhnya aku harus melawan ketakutanku dan membuat ketakutan itu menjadi teman. “Kalau kau takut, kau akan mati – kau tidak takut, kau juga mati, jadi buat apa takut?” Kata-kata itu masih bergema keras di dalam telingaku.

            Kuambil setelan jas hitamku, berjalan menembus malam. Kunjungan kali ini sangat berat, aku berkunjung ke makam orang tuaku. Kupandangi nisan dengan tatapan kosong, andai saja mereka masih hidup, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Hujan rintik-rintik mulai turun, kubiarkan air hujan mengaliri dan membasahi seluruh tubuhku.

            Aku memang kekar, aku memang jago beladiri, tetapi aku terlalu kekanak-kanakan. Aku duduk pada sebuah bangku taman dan mulai merenung, tentang kehidupan yang kujalani selama ini. Sudah 4 tahun berselang setelah kematian orang tuaku, dan aku belum bisa membanggakan arwah mereka.

            Perjalanan pulang terasa begitu lama. Berjalan kaki rasanya seperti berjalan di atas tali. Tiba-tiba saja aku tersandung sebuah benda lunak. Kupandangi benda itu, ternyata benda itu adalah topeng usang bermimik badut yang bengis. Ah, mimpi burukku. Tetapi, kuputuskan untuk melawan semua rasa takut dan sedih itu, kuambil topeng itu dan kumasukkan kedalam saku jas hitamku.

            Kusempatkan untuk mampir ke dalam sebuah bar yang bernama “Wingley’s Bar” , bar sekaligus kediaman sahabatku, Robin Wingley. Kudorong pintu bar itu, tidak ada orang disana, hanya ada seorang bartender – ya itu dia Robin. “Selamat datang, Alex McSaw, sendirian malam ini?” Tanyanya ramah. “Sudah kukira kau akan bertanya begitu, baiklah. Jadi apakah kau bisa membantuku dalam semua dunia yang jahat ini?” Tanyaku serius. “Aku sudah lama menantikan hal ini, sebagai The Night Hatter, jadi nama apa yang mau kau ambil?” Tanyanya. “Badut gila, Mad Clown – pemberantas kejahatan, itulah identitasku!”

Episode 0 - Prologue


            Lorong yang gelap, lorong masa kecilku. Satu-satunya cahaya yang dapat kulihat hanya berasal dari sebuah lentera kecil. Aku mendekap erat mobil mainan yang terbuat dari kaleng, dingin dan tak berisi. Pintu di ujung lorong hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat aku berdiri, tetapi kelihatannya sangat jauh dan menyeramkan. Pintu itu tiba-tiba terbuka dengan perlahan, derit engsel tua yang membuat bulu kuduk berdiri. Ruangan terang terbuka di depan pandanganku. Aku mulai berjalan perlahan dan…

            “AAAAAA!!!” Aku menjerit ketakutan. Seorang badut yang membawa terompet kuningan dan balon warna-warni mendadak muncul di hadapanku, gigi-giginya berwarna kuning dan nafasnya sangat bau. “Halo, anak manis…” Sapa badut mengerikan itu seraya mengambil pisau berlumuran darah dari atas meja, menghampiriku dengan cepat.

            Rupanya itu hanya mimpi, pikirku. Aku terbangun dengan badan basah oleh keringat dan posisi tidur yang sudah tidak pada tempatnya. 19 tahun memang bukan umur yang kekanak-kanakan, tetapi aku masih takut dengan badut. Tetapi itu bukan masalah serius, hanya sedikit mimpi buruk.

            Pagi itu cuaca sangat cerah, aku kembali ke dalam kehidupan nyata, bersekolah, ditindas oleh orang yang lebih kuat, yah begitulah. Namaku Alex, tetapi teman-temanku lebih suka memanggilku “Goofy Alex” , kurasa aku pantas menerima julukan itu.

            “Nak, kau sudah cukup besar, cukup penting untuk memikirkan pendidikanmu ke depan,” ujar ayahku. “Tapi, aku sudah cukup frustasi dengan sekolah!” nadaku sedikit kubuat lebih tinggi. Sebelum ayahku bisa menjawab, terdengar suara tembakan. Kulihat ibuku bersimbah darah, timah panas tepat mengenai lehernya, menembus tulang lehernya, menyayat otot-ototnya. Ayahku berlari menghantam si penembak itu, dan sekali lagi aku mendengar suara tembakan. Kedua orang tuaku meninggal pada malam itu. Si penembak tidak melihatku dan langsung kabur ke dalam gelapnya malam.

            Saat itu, aku menyadari, bahwa manusia bisa lemah di saat yang tak terkira, dan bisa juga menjadi kuat di saat tak terkira…