Malam Oktober yang dingin. Sebentar lagi tepat tengah malam. Ruangan yang kutempati rasanya makin mengkerut saja, kamar sempit berjendela tunggal dengan teralis yang tebal. Semenjak orang tuaku meninggal, aku tinggal sendirian dalam kelamnya dunia. Melihat berbagai kejahatan, serta merasakannya. Aku masih terjaga, menatap bulan purnama malam ini. Desiran angin yang masuk melalui jendela kamarku tidak bisa membuatku tertidur.
Teringatlah aku akan kata-kata paman tua yang aku tolong tadi pagi, bahwa sesungguhnya aku harus melawan ketakutanku dan membuat ketakutan itu menjadi teman. “Kalau kau takut, kau akan mati – kau tidak takut, kau juga mati, jadi buat apa takut?” Kata-kata itu masih bergema keras di dalam telingaku.
Kuambil setelan jas hitamku, berjalan menembus malam. Kunjungan kali ini sangat berat, aku berkunjung ke makam orang tuaku. Kupandangi nisan dengan tatapan kosong, andai saja mereka masih hidup, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Hujan rintik-rintik mulai turun, kubiarkan air hujan mengaliri dan membasahi seluruh tubuhku.
Aku memang kekar, aku memang jago beladiri, tetapi aku terlalu kekanak-kanakan. Aku duduk pada sebuah bangku taman dan mulai merenung, tentang kehidupan yang kujalani selama ini. Sudah 4 tahun berselang setelah kematian orang tuaku, dan aku belum bisa membanggakan arwah mereka.
Perjalanan pulang terasa begitu lama. Berjalan kaki rasanya seperti berjalan di atas tali. Tiba-tiba saja aku tersandung sebuah benda lunak. Kupandangi benda itu, ternyata benda itu adalah topeng usang bermimik badut yang bengis. Ah, mimpi burukku. Tetapi, kuputuskan untuk melawan semua rasa takut dan sedih itu, kuambil topeng itu dan kumasukkan kedalam saku jas hitamku.
Kusempatkan untuk mampir ke dalam sebuah bar yang bernama “Wingley’s Bar” , bar sekaligus kediaman sahabatku, Robin Wingley. Kudorong pintu bar itu, tidak ada orang disana, hanya ada seorang bartender – ya itu dia Robin. “Selamat datang, Alex McSaw, sendirian malam ini?” Tanyanya ramah. “Sudah kukira kau akan bertanya begitu, baiklah. Jadi apakah kau bisa membantuku dalam semua dunia yang jahat ini?” Tanyaku serius. “Aku sudah lama menantikan hal ini, sebagai The Night Hatter, jadi nama apa yang mau kau ambil?” Tanyanya. “Badut gila, Mad Clown – pemberantas kejahatan, itulah identitasku!”